Latest Products
Tampilkan postingan dengan label iedul fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iedul fitri. Tampilkan semua postingan
Tatacara Sholat Ied seperti Rasulullah

Tatacara Sholat Ied seperti Rasulullah



Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid
.
Pertama : Jumlah raka'at shalat Id ada dua berdasaran riwayat Umar radhiyallahu 'anhu.
(yang artinya) : “ Shalat safar itu ada dua raka'at, shalat Idul Adha dua raka'at dan shalat Idul Fithri dua raka'at. dikerjakan dengan sempurna tanpa qashar berdasarkan sabda Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" [Dikeluarkan oleh Ahmad 1/370, An-Nasa'i 3/183, At-Thahawi dalam Syarhu Ma'anil Al Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya Shahih]

Kedua : Rakaat pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal (takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain dalam shalat,-pent)

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata (yang artinya) : “ Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku" [Riwayat Abu Dawud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya Shahih. Peringatan : Termasuk sunnah, takbir dilakukan sebelum membaca (Al-Fatihah). sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud 1152, Ibnu Majah 1278 dan Ahmad 2/180 dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Id tujuh kali pada rakaat pertama kemudian beliau membaca syrat, lalu bertakbir dan ruku' , kemudian beliau sujud, lalu berdiri dan bertakbir lima kali, kemudian beliau membaca surat, takbir lalu ruku', kemudian sujud". Hadits ini hasan dengan pendukung-pendukungnya. Lihat Irwaul Ghalil 3/108-112. Yang menyelisihi ini tidaklah benar, sebagaimana diterangkan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad (1/443,444)]

Berkata Imam Al-Baghawi : "Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada rakaat pertama shalat Id sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya" [Ia menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam " Syarhus Sunnah 4/309. Lihat 'Majmu' Fatawa Syaikhul Islam' (24/220,221)]

Ketiga : Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat Id [Lihat Irwaul Ghalil 3/112-114]. Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata : "Ibnu Umar -dengan semangat ittiba'nya kepada Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir" [Zaadul Ma'ad 1/4410]

Aku katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam "Tamamul Minnah" hal 348 :
"Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam shalat Id diriwayatkan dari Umar dan putranya -Radhiyallahu anhuma-, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di sini tidak shahih.

Adapun dari Umar, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif (lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang"

Dalam 'Ahkmul Janaiz' hal 148, berkata Syaikh kami : "Siapa yang menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka silakan ia untuk mengangkat tangan ketika bertakbir".

Keempat : Tidak shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam satu dzikir tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir Id. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu tentang hal ini. Ibnu Mas'ud berkata : (yang artinya) : “ Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla" [Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus)]

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah : "(Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut". [Zadul Ma'ad 1/443]

Aku katakan : Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua tangan bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini.

Kelima : Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar [Diriwayatkan oleh Muslim 891, An-Nasa'i 8413, At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah 1282 dari Abi Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu] Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah [Diriwayatkan oleh Muslim 878, At-Tirmidzi 533 An-Nasa'i 3/184 Ibnu Majah 1281 dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu]

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah : "Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini, dan tidak shahih dari beliau selain itu" [Zadul Ma'ad 1/443, lihat Majalah Al-Azhar 7/193. Sebagian ahli ilmu telah berbicara tentang sisi hikmah dibacanya surat-surat ini, lihat ucapan mereka dalam 'Syarhu Muslim" 6/182 dan Nailul Authar 3/297.]

Keenam : (Setelah melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak berbeda sedikitpun. [Untuk mengetahui hal itu disertai dalil-dalilnya lihat tulisan ustadz kami Al-Albani dalam kitabnya 'Shifat Shalatun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kitab ini dicetak berkali-kali. Dan lihat risalahku 'At-Tadzkirah fi shifat Wudhu wa Shalatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, risalah ringkas.]

Ketujuh : Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Id berjama'ah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at.

Dalam hal ini berkata Imam Bukhari Rahimahullah dalam "Shahihnya", pada "Bab : Apabila seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua raka'at" [Shahih Bukhari 1/134, 135 cet India].

Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari" 2/550 berkata setelah menyebutkan tarjumah ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di atas).

Dalam tarjumah ini ada dua hukum :
1. Disyariatkan menyusul shalat Id jika luput mengerjakan secara berjamaah, sama saja apakah dengan terpaksa atau pilihan.
2. Shalat Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka'at

Berkata Atha' : "Apabila seseorang kehilangan shalat Id hendaknya ia shalat dua rakaat" [sama dengan di atas]

Al-Allamah Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan : "Ini adalah madzhabnya Syafi'i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Id bersama imam, maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan keutamaan shalat Id sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan imam".

Adapun menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla untuk shalat Id. Kalau kehilangan shalat bersama imam, maka telah hilang sama sekali"[Syarhu Taraji Abwab al Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu 5/27-29]

Berkata Imam Malik dalam 'Al-Muwatha' [Nomor : 592 -dengan riwayat Abi Mush'ab] : "Setiap yang shalat dua hari raya sendiri, baik laki-lai maupun perempuan, maka aku berpendapat agar ia bertakbir pada rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca (Al-Fatihah) dan lima kali pada raka'at kedua sebelum membaca (Al-Fatihah)"

Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain [Al-Mughni 2/212]

Kedelapan : Takbir (shalat Id) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan [Al –Mughni 2/244 oleh Ibnu Qudamah] Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)


Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid
.
Pertama : Jumlah raka'at shalat Id ada dua berdasaran riwayat Umar radhiyallahu 'anhu.
(yang artinya) : “ Shalat safar itu ada dua raka'at, shalat Idul Adha dua raka'at dan shalat Idul Fithri dua raka'at. dikerjakan dengan sempurna tanpa qashar berdasarkan sabda Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam" [Dikeluarkan oleh Ahmad 1/370, An-Nasa'i 3/183, At-Thahawi dalam Syarhu Ma'anil Al Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya Shahih]

Kedua : Rakaat pertama, seperti halnya semua shalat, dimulai dengan takbiratul ihram, selanjutnya bertakbir sebanyak tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima kali, tidak termasuk takbir intiqal (takbir perpindahan dari satu gerakan ke gerakan lain dalam shalat,-pent)

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata (yang artinya) : “ Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Idul Fithri dan Idul Adha, pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali dan rakaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku" [Riwayat Abu Dawud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya Shahih. Peringatan : Termasuk sunnah, takbir dilakukan sebelum membaca (Al-Fatihah). sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud 1152, Ibnu Majah 1278 dan Ahmad 2/180 dari Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata : "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Id tujuh kali pada rakaat pertama kemudian beliau membaca syrat, lalu bertakbir dan ruku' , kemudian beliau sujud, lalu berdiri dan bertakbir lima kali, kemudian beliau membaca surat, takbir lalu ruku', kemudian sujud". Hadits ini hasan dengan pendukung-pendukungnya. Lihat Irwaul Ghalil 3/108-112. Yang menyelisihi ini tidaklah benar, sebagaimana diterangkan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad (1/443,444)]

Berkata Imam Al-Baghawi : "Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada rakaat pertama shalat Id sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca (Al-Fatihah). Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya" [Ia menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam " Syarhus Sunnah 4/309. Lihat 'Majmu' Fatawa Syaikhul Islam' (24/220,221)]

Ketiga : Tidak ada yang shahih satu riwayatpun dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir shalat Id [Lihat Irwaul Ghalil 3/112-114]. Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata : "Ibnu Umar -dengan semangat ittiba'nya kepada Rasul- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir" [Zaadul Ma'ad 1/4410]

Aku katakan : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam "Tamamul Minnah" hal 348 :
"Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam shalat Id diriwayatkan dari Umar dan putranya -Radhiyallahu anhuma-, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat Umar dan putranya di sini tidak shahih.

Adapun dari Umar, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang dlaif (lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang"

Dalam 'Ahkmul Janaiz' hal 148, berkata Syaikh kami : "Siapa yang menganggap bahwasanya Ibnu Umar tidak mengerjakan hal itu kecuali dengan tauqif dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka silakan ia untuk mengangkat tangan ketika bertakbir".

Keempat : Tidak shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam satu dzikir tertentu yang diucapkan di antara takbir-takbir Id. Akan tetapi ada atsar dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu tentang hal ini. Ibnu Mas'ud berkata : (yang artinya) : “ Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla" [Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus)]

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah : "(Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam) diam sejenak di antara dua takbir, namun tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca di antara takbir-takbir tersebut". [Zadul Ma'ad 1/443]

Aku katakan : Apa yang telah aku katakan dalam masalah mengangkat kedua tangan bersama takbir, juga akan kukatakan dalam masalah ini.

Kelima : Apabila telah sempurna takbir, mulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaf pada salah satu rakaat dan pada rakaat lain membaca surat Al-Qamar [Diriwayatkan oleh Muslim 891, An-Nasa'i 8413, At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah 1282 dari Abi Waqid Al-Laitsi radhiyallahu 'anhu] Terkadang dalam dua rakaat itu beliau membaca surat Al-A'la dan surat Al-Ghasyiyah [Diriwayatkan oleh Muslim 878, At-Tirmidzi 533 An-Nasa'i 3/184 Ibnu Majah 1281 dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu]

Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah : "Telah shahih dari beliau bacaan surat-surat ini, dan tidak shahih dari beliau selain itu" [Zadul Ma'ad 1/443, lihat Majalah Al-Azhar 7/193. Sebagian ahli ilmu telah berbicara tentang sisi hikmah dibacanya surat-surat ini, lihat ucapan mereka dalam 'Syarhu Muslim" 6/182 dan Nailul Authar 3/297.]

Keenam : (Setelah melakukan hal di atas) selebihnya sama seperti shalat-shalat biasa, tidak berbeda sedikitpun. [Untuk mengetahui hal itu disertai dalil-dalilnya lihat tulisan ustadz kami Al-Albani dalam kitabnya 'Shifat Shalatun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kitab ini dicetak berkali-kali. Dan lihat risalahku 'At-Tadzkirah fi shifat Wudhu wa Shalatin Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, risalah ringkas.]

Ketujuh : Siapa yang luput darinya (tidak mendapatkan) shalat Id berjama'ah, maka hendaklah ia shalat dua raka'at.

Dalam hal ini berkata Imam Bukhari Rahimahullah dalam "Shahihnya", pada "Bab : Apabila seseorang luput dari shalat Id hendaklah ia shalat dua raka'at" [Shahih Bukhari 1/134, 135 cet India].

Al-Hafidzh Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari" 2/550 berkata setelah menyebutkan tarjumah ini (judul bab yang diberi oleh Imam Bukhari di atas).

Dalam tarjumah ini ada dua hukum :
1. Disyariatkan menyusul shalat Id jika luput mengerjakan secara berjamaah, sama saja apakah dengan terpaksa atau pilihan.
2. Shalat Id yang luput dikerjakan diganti dengan shalat dua raka'at

Berkata Atha' : "Apabila seseorang kehilangan shalat Id hendaknya ia shalat dua rakaat" [sama dengan di atas]

Al-Allamah Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan : "Ini adalah madzhabnya Syafi'i, yaitu jika seseorang tidak mendapati shalat Id bersama imam, maka hendaklah ia shalat dua rakat, sehingga ia mendapatkan keutamaan shalat Id sekalipun luput darinya keutamaan shalat berjamaah dengan imam".

Adapun menurut madzhab Hanafi, tidak ada qadla untuk shalat Id. Kalau kehilangan shalat bersama imam, maka telah hilang sama sekali"[Syarhu Taraji Abwab al Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu 5/27-29]

Berkata Imam Malik dalam 'Al-Muwatha' [Nomor : 592 -dengan riwayat Abi Mush'ab] : "Setiap yang shalat dua hari raya sendiri, baik laki-lai maupun perempuan, maka aku berpendapat agar ia bertakbir pada rakaat pertama tujuh kali sebelum membaca (Al-Fatihah) dan lima kali pada raka'at kedua sebelum membaca (Al-Fatihah)"

Orang yang terlambat dari shalat Id, hendaklah ia melakukan shalat yang tata caranya seperti shalat Id. sebagaimana shalat-shalat lain [Al-Mughni 2/212]

Kedelapan : Takbir (shalat Id) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan [Al –Mughni 2/244 oleh Ibnu Qudamah] Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)
Tatacara Sholat Ied seperti Rasulullah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhk5EU2FWPCrQX08Ogj9I4n2BPUsjHMxgnylxP6zKePLKWtBTDhpCMCp1NzMqJqI8JxPz2vqY21GLovrH3xk9RUWIllcVq7lY66LUS3TkDhZ8MFF4cgBN1BwiHfpiVUsDXZI7BE1TYd91q-/s72-c/ML0004.JPG
View detail
Berpenampilan indah di hari raya Ied

Berpenampilan indah di hari raya Ied


Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari



Dari Ibnu Umar Radhliallahu 'anhuma ia berkata : Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah dan berkata (Yang artinya) : “ Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bahagian (di akhirat-pent)'. Maka Umar tinggal sepanjang waktu yang Allah inginkan. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : 'Ya Rasulullah, engkau pernah mengatakan : 'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bahagian', dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya". [Hadits Riwayat Bukhari 886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076. An-Nasaa'i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49]
Berkata Al-Allamah As-Sindi.
"Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini". [Hasyiyah As Sindi 'alan Nasa'i 3/181].

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata.
"Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha".[Fathul Bari 2/439]

Beliau juga menyatakan :
"Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum'at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera". [Fathul Bari 2/434].

Dalam 'Al-Mughni' (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan :
"Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur".

Malik berkata :
"Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya".

Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad" (1/441).
"Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah (Lihat "Silsilah As-Shahihah 1279), namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.

(Dikutip dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein)

Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari



Dari Ibnu Umar Radhliallahu 'anhuma ia berkata : Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah dan berkata (Yang artinya) : “ Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bahagian (di akhirat-pent)'. Maka Umar tinggal sepanjang waktu yang Allah inginkan. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : 'Ya Rasulullah, engkau pernah mengatakan : 'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak mendapat bahagian', dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya". [Hadits Riwayat Bukhari 886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076. An-Nasaa'i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49]
Berkata Al-Allamah As-Sindi.
"Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini". [Hasyiyah As Sindi 'alan Nasa'i 3/181].

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata.
"Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha".[Fathul Bari 2/439]

Beliau juga menyatakan :
"Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum'at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera". [Fathul Bari 2/434].

Dalam 'Al-Mughni' (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan :
"Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur".

Malik berkata :
"Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya".

Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad" (1/441).
"Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah (Lihat "Silsilah As-Shahihah 1279), namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.

(Dikutip dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Pustaka Al-Haura', penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Hussein)
Berpenampilan indah di hari raya Ied
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOAR78gM803onsW8B9vmwiZY8oz8FyPeTSUZyjfxQC4Hi5wMcb08QqIQpTLfYWkz_GXhP36wF47UKblxU3YoclsiQzqvXqOjfPbhBKbxDwABxPgBZGinAPjmLah2lTacz9Ksw1Dx1qsshG/s72-c/Flower+20.jpg
View detail
Syar'inya berhias diri di Hari Raya

Syar'inya berhias diri di Hari Raya



Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhliallahu 'anhuma ia berkata : Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah dan berkata : (yang artinya) : "Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan yang menghadap engkau. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak memiliki keimanan / pakaian orang-orang kafir'. Setelah itu Umar tidak menampakkan diri beberapa hari yang dikehendaki Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : 'Ya Rasulullah, engkau pernah mengatakan : 'Ini adalah pakaiannya orang kafir dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya". [Hadits Riwayat Bukhari 886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076. An-Nasaa'i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49]

Berkata Al-Allamah As-Sindi : "Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini". [Hasyiyah As Sindi 'alan Nasa'i 3/181].

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata : "Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa ia biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha".[Fathul Bari 2/439]

Beliau juga menyatakan : "Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum'at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera". [Fathul Bari 2/434].

Dalam 'Al-Mughni' (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan : "Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur".

Malik berkata : "Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya".

Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad" (1/441) : "Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah[ ], namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)


Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhliallahu 'anhuma ia berkata : Umar mengambil sebuah jubah dari sutera tebal yang dijual di pasar, lalu ia datang kepada Rasulullah dan berkata : (yang artinya) : "Ya Rasulullah, belilah jubah ini agar engkau dapat berdandan dengannya pada hari raya dan saat menerima utusan yang menghadap engkau. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Ini adalah pakaiannya orang yang tidak memiliki keimanan / pakaian orang-orang kafir'. Setelah itu Umar tidak menampakkan diri beberapa hari yang dikehendaki Allah. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan kepadanya jubah sutera. Umar menerimanya lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia berkata : 'Ya Rasulullah, engkau pernah mengatakan : 'Ini adalah pakaiannya orang kafir dan engkau telah mengirimkan padaku jubah ini'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Umar :'Juallah jubah ini atau engkau penuhi kebutuhanmu dengannya". [Hadits Riwayat Bukhari 886,948,2104,2169, 3045, 5841,5891 dan 6081. Muslim 2068, Abu Daud 1076. An-Nasaa'i 3/196 dan 198. Ahmad 2/20,39 dan 49]

Berkata Al-Allamah As-Sindi : "Dari hadits ini diketahui bahwa berdandan (membaguskan penampilan) pada hari raya merupakan kebiasaan yang ditetapkan di antara mereka, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, maka diketahui tetapnya kebiasaan ini". [Hasyiyah As Sindi 'alan Nasa'i 3/181].

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata : "Ibnu Abi Dunya dan Al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan isnad yang shahih yang sampai kepada Ibnu Umar bahwa ia biasa memakai pakaiannya yang paling bagus pada hari Idul Fithri dan Idul Adha".[Fathul Bari 2/439]

Beliau juga menyatakan : "Sisi pendalilan dengan hadist ini adalah takrir-nya (penetapan) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Umar berdasarkan asal memperbagus penampilan itu adalah untuk hari Jum'at. Yang beliau ingkari hanyalah pemakaian perhiasan semisal itu karena ia terbuat dari sutera". [Fathul Bari 2/434].

Dalam 'Al-Mughni' (2/228) Ibnu Qudamah menyatakan : "Ini menunjukkan bahwa membaguskan penampilan di kalangan mereka pada saat-saat itu adalah masyhur".

Malik berkata : "Aku mendengar ulama menganggap sunnah untuk memakai wangi-wangian dan perhiasan pada setiap hari raya".

Berkata Ibnul Qayyim dalam "Zadul Ma'ad" (1/441) : "Nabi memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada dua hari raya itu dan pada hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai dua burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah[ ], namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan lagi namanya burdah. Tapi yang beliau kenakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)
Syar'inya berhias diri di Hari Raya
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3vwTVfDeum7NBSEhIhPqADedmeg7lftnTgv_q3cSYMhs8jG-b_kL8iFG37E8GG5M9Nh17PjV_K5gBS9ngA9eWMaZ-KkDloNh9tLplm8RQVaYdWA6UwE14s0fqsdftQfzI8wMQkuIU9P_M/s72-c/ML0075.JPG
View detail
Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya

Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya

Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : “ Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".

Telah terdapat riwayat, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada hari raya Idhul Fithri, beliau bertakbir, ketika mendatangi mushalla sampai selesainya shalat, apabila shalat telah selesai, maka beliau menghentikan takbirnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf, al Muhamili dalam Shalatul ‘Idain dengan sanad sahih tetapi mursal. Riwayat tersebut memiliki syahid/penguat yang menguatkan riwayat tersebut. Lihat Silsilah al Ahadits ash Shohihah (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Id].

Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani : "Dalam hadits ini ada dalil disyari'atkannya melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita.

Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.. Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan . Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut[1], dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya (Kapan kaum musliminb diperintahkan takbir di kedua hari raya – pent), maka beliau rahimahullah menjawab : "Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat". [Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat 'Subulus Salam' 2/71-72]

Ibnu Umar dahulu apabila pergi keluar pada hari raya Idhul Fithri dan Idhul Adha, beliau mengeraskan ucapan takbirnya sampai ke mushalla, kemudian bertakbir sampai imam datang. (HR Ad Daraquthni dan Ibnu Abi Syaibah dan selain mereka dengan sanad yang shahih. Lihat Irwa ‘ul Ghalil 650).

Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan. Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab 'Iedain dari "Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah".

Umar Radliallahu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid".

Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat "Irwaul Ghalil' 650]

Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajallu Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.
(yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

Abdurrazzaq -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata : (yang artinya) : “ Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".

Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam "Fathul Bari (2/536) : "Pada masa ini telah diada-adakan suatu tambahan dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalnya".



Footnote :
(1). Yang lebih tragis lagi pelaksanaan takbir untuk hari raya Iedhul Fithri khususnya, sebagian kaum muslimin di negeri-negerinya melakukan dengan cara-cara yang jauh dari sunnah, seperti yang disebutkan di atas dan yang lebih fatal sebagian mereka mengadakan acara takbiran – menurut anggapan mereka – pada malam hari Lebaran sudah mengumandangkan kalimat takbir bahkan dengan cara-cara yang penuh dengan kemaksiatan musik, bercampurnya laki-laki dan wanita serta berjoget-joget dan kemungkaran lainnya – yang sudah dianggap bagian dari syiar Islam. Bahkan mereka menganggap hal itu sunnah dan kewajiban yang harus dilakukan dengan cara yang demikian. Laa haula walaa quwwata illa billah – pent.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)
Penulis: Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid

Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) : “ Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur".

Telah terdapat riwayat, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah keluar pada hari raya Idhul Fithri, beliau bertakbir, ketika mendatangi mushalla sampai selesainya shalat, apabila shalat telah selesai, maka beliau menghentikan takbirnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf, al Muhamili dalam Shalatul ‘Idain dengan sanad sahih tetapi mursal. Riwayat tersebut memiliki syahid/penguat yang menguatkan riwayat tersebut. Lihat Silsilah al Ahadits ash Shohihah (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Id].

Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al Albani : "Dalam hadits ini ada dalil disyari'atkannya melakukan takbir dengan suara jahr (keras) di jalanan ketika menuju mushalla sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh sunnah ini hingga hampir-hampir sunnah ini sekedar menjadi berita.

Termasuk yang baik untuk disebutkan dalam kesempatan ini adalah bahwa mengeraskan takbir disini tidak disyari'atkan berkumpul atas satu suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin seseorang -pent) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang.. Demikian pula setiap dzikir yang disyariatkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyariatkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas satu suara seperti yang telah disebutkan . Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut[1], dan hendaklah kita selalu meletakkan di hadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang waktu takbir pada dua hari raya (Kapan kaum musliminb diperintahkan takbir di kedua hari raya – pent), maka beliau rahimahullah menjawab : "Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat". [Majmu Al -Fatawa 24/220 dan lihat 'Subulus Salam' 2/71-72]

Ibnu Umar dahulu apabila pergi keluar pada hari raya Idhul Fithri dan Idhul Adha, beliau mengeraskan ucapan takbirnya sampai ke mushalla, kemudian bertakbir sampai imam datang. (HR Ad Daraquthni dan Ibnu Abi Syaibah dan selain mereka dengan sanad yang shahih. Lihat Irwa ‘ul Ghalil 650).

Aku katakan : Ucapan beliau rahimahullah : '(dilakukan) setelah selesai shalat' -secara khusus tidaklah dilandasi dalil. Yang benar, takbir dilakukan pada setiap waktu tanpa pengkhususan. Yang menunjukkan demikian adalah ucapan Imam Bukhari dalam kitab 'Iedain dari "Shahih Bukhari" 2/416 : "Bab Takbir pada hari-hari Mina, dan pada keesokan paginya menuju Arafah".

Umar Radliallahu 'anhu pernah bertakbir di kubahnya di Mina. Maka orang-orang yang berada di masjid mendengarnya lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang berada di pasar hingga kota Mina gemuruh dengan suara takbir.

Ibnu Umar pernah bertakbir di Mina pada hari-hari itu dan setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majlis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.

Maimunnah pernah bertakbir pada hari kurban, dan para wanita bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul Aziz pada malam-malam hari Tasyriq bersama kaum pria di masjid".

Pada pagi hari Idul Fitri dan Idul Adha, Ibnu Umar mengeraskan takbir hingga ia tiba di mushalla, kemudian ia tetap bertakbir hingga datang imam. [Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni, Ibnu Abi Syaibah dan selainnya dengan isnad yang shahih. Lihat "Irwaul Ghalil' 650]

Sepanjang yang aku ketahui, tidak ada hadits nabawi yang shahih tentang tata cara takbir. Yang ada hanyalah tata cara takbir yang di riwayatkan dari sebagian sahabat, semoga Allah meridlai mereka semuanya.

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.
(Yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh : Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajallu Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.
(yang artinya) : “ Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

Abdurrazzaq -dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam "As Sunanul Kubra" (3/316)- meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Salman Al- Khair Radliallahu anhu, ia berkata : (yang artinya) : “ Agungkanlah Allah dengan mengucapkan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira".

Banyak orang awam yang menyelisihi dzikir yang diriwayatkan dari salaf ini dengan dzikir-dzikir lain dan dengan tambahan yang dibuat-buat tanpa ada asalnya. Sehingga Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam "Fathul Bari (2/536) : "Pada masa ini telah diada-adakan suatu tambahan dalam dzikir itu, yang sebenarnya tidak ada asalnya".



Footnote :
(1). Yang lebih tragis lagi pelaksanaan takbir untuk hari raya Iedhul Fithri khususnya, sebagian kaum muslimin di negeri-negerinya melakukan dengan cara-cara yang jauh dari sunnah, seperti yang disebutkan di atas dan yang lebih fatal sebagian mereka mengadakan acara takbiran – menurut anggapan mereka – pada malam hari Lebaran sudah mengumandangkan kalimat takbir bahkan dengan cara-cara yang penuh dengan kemaksiatan musik, bercampurnya laki-laki dan wanita serta berjoget-joget dan kemungkaran lainnya – yang sudah dianggap bagian dari syiar Islam. Bahkan mereka menganggap hal itu sunnah dan kewajiban yang harus dilakukan dengan cara yang demikian. Laa haula walaa quwwata illa billah – pent.

(Dinukil dari Ahkaamu Al' Iidaini Fii Al-Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari dan Syaikh Salim Al Hilali, edisi Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya, terbitan Maktabah Salafy Press, penerjemah ustadz Hannan Husein Bahannan)
Tuntunan para Salaf dalam bertakbir disaat hari Raya
View detail
Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

%3Ca+onblur%3D%22try+%7Bparent.deselectBloggerImageGracefully%28%29%3B%7D+catch%28e%29+%7B%7D%22+href%3D%22http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F_yaHd8SS39Yw%2FTL2cXU6GKQI%2FAAAAAAAAAeY%2FZNQNcxajNGM%2Fs1600%2FML0094.JPG%22%3E%3Cimg+style%3D%22margin%3A+0px+auto+10px%3B+display%3A+block%3B+text-align%3A+center%3B+cursor%3A+pointer%3B+width%3A+320px%3B+height%3A+240px%3B%22+src%3D%22http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F_yaHd8SS39Yw%2FTL2cXU6GKQI%2FAAAAAAAAAeY%2FZNQNcxajNGM%2Fs320%2FML0094.JPG%22+alt%3D%22%22+id%3D%22BLOGGER_PHOTO_ID_5529747842044143874%22+border%3D%220%22+%2F%3E%3C%2Fa%3E%0D%0A%3Cdiv+style%3D%22text-align%3A+center%3B%22%3E%0D%0APenulis%3A+Al-Ustadz+Saifuddin+Zuhri%2C+Lc.%0D%0A%0D%0A%09%09%3C%2Fdiv%3E%3Cdiv+style%3D%22text-align%3A+justify%3B%22+class%3D%22article-index-content%22%3E+%09%09%09+%09%09%09%09%0D%0A%09%09%09+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AF%D9%8E+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%86%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B0%D9%8F+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B4%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%81%D9%8F%D8%B3%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%90%D8%A6%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%87%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%B6%D9%90%D9%84%D9%91%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B6%D9%92%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92+%D9%81%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%87%D9%8F.%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A2%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%AD%D9%8E%D9%82%D9%91%D9%8E+%D8%AA%D9%8F%D9%82%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%AA%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92%D8%AA%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%85%D9%91%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E.+%5B%D8%A2%D9%84+%D8%B9%D9%85%D8%B1%D8%A7%D9%86%3A+102%5D%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B3%D9%8F+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A+%D8%AE%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%92%D8%B3%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AD%D9%90%D8%AF%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%AE%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%B2%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%AC%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D8%AB%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%B1%D9%90%D8%AC%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D9%83%D9%8E%D8%AB%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8B%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%90%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%B1%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%B1%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%8A%D8%A8%D9%8B%D8%A7+%5B%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B3%D8%A7%D8%A1%3A+1%5D%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%86%D9%8E+%D8%A2%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D9%82%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D8%B3%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D9%8A%D9%8F%D8%B5%D9%92%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%92+%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%92+%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%B0%D9%8F%D9%86%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A8%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B7%D9%90%D8%B9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%AF%D9%92+%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B2%D9%8E+%D9%81%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%B2%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8B%D8%A7+%5B%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%AD%D8%B2%D8%A7%D8%A8%3A+70-71%5D%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%82%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%AB%D9%90+%D9%83%D9%90%D8%AA%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%AE%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%92%D9%8A%D9%90+%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%92%D9%8A%D9%8F+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8F%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%90+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%AB%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%AB%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D8%A8%D9%90%D8%AF%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A9%D9%8C+%D9%88%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D8%AF%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%8C+%D9%88%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A%0D%0AMa%E2%80%99asyiral+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0AMarilah+kita+senantiasa+bertakwa+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala+dengan+menjalankan+perintah-perintah-Nya+sekuat+kemampuan+kita%2C+serta+dengan+menjauhi+segala+larangan-Nya.+Dan+marilah+kita+senantiasa+mengingat+bahwa+dunia+yang+kita+tempati+ini+bukanlah+tempat+tinggal+selamanya.+Bahkan+sebenarnya+kita+sedang+dalam+suatu+perjalanan+menuju+tempat+tinggal+yang+sesungguhnya+di+alam+akhirat+nanti.+Telah+banyak+orang+yang+dulunya+bersama+kita+atau+bahkan+dahulu+tinggal+satu+rumah+dengan+kita%2C+telah+melewati+dan+meninggalkan+dunia+ini.+Mereka+telah+meninggalkan+tempat+beramal+di+dunia+ini+menuju+tempat+perhitungan+dan+pembalasan+amalan.+Akan+segera+datang+pula+saatnya+kita+menyusul+mereka.+Maka%2C+marilah+kita+manfaatkan+dunia+ini+sebagai+tempat+mencari+bekal+untuk+kehidupan+akhirat+kita.+Sungguh+seseorang+akan+menyesal+ketika+pada+hari+perhitungan+amal+nanti+dia+datang+dalam+keadaan+tidak+membawa+amal+shalih.+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+berfirman%3A%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A6%D9%90%D8%B0%D9%8D+%D9%8A%D9%8E%D8%AA%D9%8E%D8%B0%D9%8E%D9%83%D9%91%D9%8E%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%89+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%91%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8E%D9%89.+%D9%8A%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F+%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%AA%D9%8E%D9%86%D9%90%D9%8A+%D9%82%D9%8E%D8%AF%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AA%D9%8F+%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D9%8A%0D%0A%E2%80%9CPada+hari+itu+ingatlah+manusia%2C+akan+tetapi+tidak+berguna+lagi+mengingat+itu+baginya.+Dia+mengatakan%3A+%E2%80%98Alangkah+baiknya+kiranya+aku+dahulu+mengerjakan+%28amal+shalih%29+untuk+hidupku+%28di+akhirat%29+ini%E2%80%99.%E2%80%9D+%28Al-Fajr%3A+23-24%29%0D%0A%0D%0AHadirin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C%0D%0ADi+dalam+perjalanan+hidup+di+dunia+ini%2C+kita+akan+menjumpai+hari-hari+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+berikan+keutamaan+di+dalamnya.+Yaitu+dengan+dilipatgandakannya+balasan+amalan+dengan+pahala+yang+berlipat%2C+tidak+seperti+hari-hari+biasanya.+Di+antara+hari-hari+tersebut+adalah+sepuluh+hari+pertama+di+bulan+Dzulhijjah.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+di+dalam+sabda+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%84%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%87%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%90+-+%D9%8A%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%86%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B4%D9%92%D8%B1%D9%90.+%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A7%3A+%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%90%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%D8%9F+%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%90%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%B1%D9%8E%D8%AC%D9%8F%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D8%AE%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%AC%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%92%D8%B3%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%AB%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D8%B1%D9%92%D8%AC%D9%90%D8%B9%D9%92+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B0%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D8%B4%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%A1%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CTidaklah+ada+hari+yang+amal+shalih+di+dalamnya+lebih+dicintai+oleh+Allah+dari+hari-hari+tersebut+%28yaitu+sepuluh+hari+pertama+bulan+Dzulhijjah%29.%E2%80%9D+Para+sahabat+pun+bertanya%3A+%E2%80%9CWahai+Rasulullah%2C+apakah+jihad+di+jalan+Allah+tidak+lebih+utama%3F%E2%80%9D+Rasulullah+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+berkata%3A+%E2%80%9CTidaklah+jihad+lebih+utama+%28dari+beramal+di+hari-hari+tersebut%29%2C+kecuali+orang+yang+keluar+%28berjihad%29+dengan+jiwa+dan+hartanya%2C+kemudian+tidak+kembali+dengan+keduanya+%28karena+mati+syahid%29.%E2%80%9D+%28HR.+Al-Bukhari%29%0D%0A%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C%0D%0APada+sepuluh+hari+yang+pertama+ini%2C+kita+juga+disyariatkan+untuk+banyak+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C+baik+itu+berupa+ucapan+takbir%2C+tahmid%2C+maupun+tahlil.+Hal+ini+sebagaimana+yang+disebutkan+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CDan+supaya+mereka+berdzikir+menyebut+nama+Allah+pada+hari+yang+telah+ditentukan.%E2%80%9D+%28Al-Hajj%3A+28%29%0D%0ADiterangkan+oleh+para+ulama+bahwa+hari-hari+yang+ditentukan+pada+ayat+tersebut+adalah+sepuluh+hari+awal+bulan+Dzulhijjah.+Maka+hadits+dan+ayat+tadi+menunjukkan+keutamaan+hari-hari+tersebut+dan+betapa+besarnya+rahmat+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+kepada+hamba-hamba-Nya.+Karena+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+masih+memberikan+kesempatan+bagi+orang+yang+belum+mampu+menjalankan+ibadah+haji+untuk+mendapatkan+keutamaan+yang+besar+pula%2C+yaitu+beramal+shalih+pada+sepuluh+hari+pertama+di+bulan+Dzulhijjah.+Sehingga+sudah+semestinya+kaum+muslimin+memanfaatkan+sepuluh+hari+pertama+ini+dengan+berbagai+amalan+ibadah%2C+seperti+berdoa%2C+dzikir%2C+sedekah%2C+dan+sebagainya.+Termasuk+amal+ibadah+yang+disyariatkan+untuk+dikerjakan+pada+hari-hari+tersebut+%E2%80%93kecuali+hari+yang+kesepuluh%E2%80%93+adalah+puasa.+Apalagi+ketika+menjumpai+hari+Arafah%2C+yaitu+hari+kesembilan+di+bulan+Dzulhijjah%2C+sangat+ditekankan+bagi+kaum+muslimin+untuk+berpuasa+yang+dikenal+dengan+istilah+puasa+Arafah%2C+kecuali+bagi+jamaah+haji+yang+sedang+wukuf+di+Arafah.+Hal+ini+sebagaimana+yang+disabdakan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+ketika+ditanya+tentang+puasa+hari+Arafah%2C+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+menjawab%3A%0D%0A%D9%8A%D9%8F%D9%83%D9%8E%D9%81%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%91%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D9%82%D9%90%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8E%0D%0A%E2%80%9C%28Puasa+Arafah%29+menghapus+dosa-dosa+setahun+yang+lalu+dan+yang+akan+datang.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0AAdapun+bagi+para+jamaah+haji%2C+mereka+tidak+diperbolehkan+untuk+berpuasa%2C+karena+pada+hari+itu+mereka+harus+melakukan+wukuf.+Karena+mereka+memerlukan+cukup+kekuatan+untuk+memperbanyak+dzikir+dan+doa+pada+saat+wukuf+di+Arafah.+Sehingga+pada+hari+tersebut+kita+semua+berharap+untuk+mendapatkan+keutamaan+yang+sangat+besar+serta+ampunan+dari+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.+Karena+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+menyebutkan+bahwa+hari+itu+adalah+hari+pengampunan+dosa-dosa+dan+hari+dibebaskannya+hamba-hamba+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+kehendaki+dari+api+neraka.+Sebagaimana+dalam+sabda+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8D+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%AB%D9%8E%D8%B1%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B9%D9%92%D8%AA%D9%90%D9%82%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A9%D9%8E%0D%0A%E2%80%9CTidak+ada+hari+yang+Allah+membebaskan+hamba-hamba+dari+api+neraka%2C+lebih+banyak+daripada+di+hari+Arafah.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0APada+bulan+Dzulhijjah+juga+ada+hari+yang+sangat+istimewa+yang+dikenal+dengan+istilah+hari+nahr.+Yaitu+hari+kesepuluh+di+bulan+tersebut%2C+di+saat+kaum+muslimin+merayakan+Idul+Adha+dan+menjalankan+shalat+Id+serta+memulai+ibadah+penyembelihan+qurbannya%2C+sementara+para+jamaah+haji+menyempurnakan+amalan+hajinya.+Begitu+pula+hari-hari+yang+datang+setelahnya%2C+yang+dikenal+dengan+istilah+hari+tasyriq%2C+yaitu+hari+yang+kesebelas%2C+keduabelas%2C+dan+ketigabelas.+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+mengkhususkan+hari-hari+tersebut+sebagai+hari-hari+untuk+makan%2C+minum%2C+dan+berdzikir.+Dan+hari-hari+itulah+yang+menurut+keterangan+para+ulama+adalah+hari+yang+disebutkan+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CDan+berdzikirlah+%28dengan+menyebut%29+Allah+dalam+beberapa+hari+yang+berbilang.%E2%80%9D+%28Al-Baqarah%3A+203%29%0D%0ADan+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+juga+menyebutkan+tentang+hari-hari+tersebut%3A%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8F+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E%D9%89+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D9%84%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B4%D9%8F%D8%B1%D9%92%D8%A8%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8D+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%B2%D9%91%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%AC%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%0D%0A%E2%80%9CHari-hari+Mina+%28hari+nahr+dan+tasyriq%29+adalah+hari-hari+makan+dan+minum+serta+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0A%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0ABerkaitan+dengan+dzikir+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+perintahkan+kaum+muslimin+untuk+banyak+mengucapkannya+pada+hari-hari+tasyriq+dan+hari-hari+sebelumnya+di+awal+bulan+Dzulhijjah%2C+para+ulama+dalam+Al-Lajnah+Ad-Da%60imah+menyebutkan+fatwa+sebagai+berikut%3A%0D%0A%E2%80%9CDisyariatkan+pada+Idul+Adha+takbir+mutlak+dan+takbir+muqayyad.+Adapun+takbir+mutlak+maka+%28disyariatkan+untuk+dilakukan%29+pada+seluruh+waktu+dari+mulai+awal+masuknya+bulan+Dzulhijjah+sampai+hari+yang+terakhir+dari+hari-hari+tasyriq.+Sedangkan+takbir+muqayyad+%28disyariatkan+untuk+dilakukan%29+pada+setiap+selesai+shalat+wajib+mulai+dari+setelah+selesai+shalat+subuh+pada+hari+Arafah+sampai+setelah+shalat+%E2%80%98Ashr+pada+akhir+hari+tasyriq.+Dan+pensyariatkan+hal+tersebut+ditunjukkan+oleh+ijma%E2%80%99+dan+perbuatan+para+shahabat+radhiyallahu+%27anhum.%E2%80%9D%0D%0ASebagaimana+ibadah+lainnya%2C+dzikir+juga+merupakan+suatu+amalan+yang+tata+caranya+tidak+boleh+menyimpang+dari+petunjuk+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Sehingga+para+ulama+juga+memberikan+peringatan+dari+dilakukannya+takbir+secara+jama%E2%80%99i%2C+karena+hal+itu+tidak+pernah+dilakukan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+dan+Al-Khulafa%60+Ar-Rasyidin.+Yang+dimaksud+di+sini+adalah+takbir+yang+diucapkan+secara+bersama-sama+dengan+satu+suara+dan+dipimpin+oleh+seseorang.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+dalam+fatwa+para+ulama+dalam+Al-Lajnah+Ad-Da%60imah+yang+isinya%3A+%E2%80%9C%28Yang+benar%29+adalah+setiap+orang+melakukan+takbir+sendiri-sendiri+dengan+suara+keras.+Karena+sesungguhnya+takbir+dengan+cara+bersama-sama+%28dengan+satu+suara+yang+dipimpin+oleh+seseorang%29+tidak+pernah+dilakukan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Dan+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+telah+bersabda%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%84%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B3%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%B1%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E+%D8%B1%D9%8E%D8%AF%D9%91%D9%8C%0D%0A%E2%80%9CBarangsiapa+yang+mengamalkan+amalan+yang+tidak+ada+syariatnya+dari+kami+maka+amalan+tersebut+ditolak.%E2%80%9D+%28HR.+Al-Bukhari+Muslim%29%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0AAkhirnya%2C+marilah+kita+berusaha+memanfaatkan+hari-hari+yang+penuh+dengan+keutamaan+untuk+menambah+dan+meningkatkan+amal+shalih+kita.+Begitu+pula+kita+manfaatkan+waktu+yang+ada+untuk+memperbanyak+dzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.+Sehingga+kita+akan+menjadi+orang+yang+mendapatkan+kelapangan+hati%2C+senantiasa+takut+kepada-Nya+dan+terjaga+dari+gangguan+setan%2C+serta+faedah+lainnya+dari+amalan+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B0%D9%8F+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%91%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B7%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AC%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90.+%7B%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D9%84%D9%90%D9%8A+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%83%D9%92%D9%81%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%90%7D.%0D%0A%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%8E%D9%83%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%82%D9%8F%D8%B1%D9%92%D8%A2%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A2%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%91%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%83%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90.+%D8%A3%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F+%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%90%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A6%D9%90%D8%B1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%90%D9%91+%D8%B0%D9%8E%D9%86%D9%92%D8%A8%D9%8D%D8%8C+%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%BA%D9%8E%D9%81%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8F.%0D%0A%0D%0A%0D%0AKhutbah+Kedua%0D%0A%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AF%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B9%D9%90+%D8%B5%D9%90%D8%B1%D9%8E%D8%A7%D8%B7%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B9%D9%90+%D8%B3%D9%8F%D8%A8%D9%8F%D9%84%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%B1%D9%91%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D8%A8%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%BA%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A8%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D8%BA%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%B3%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%AA%D9%90%D9%8A+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AE%D9%8F%D9%84%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%91%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%BA%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8B%D8%A7+%D9%83%D9%8E%D8%AB%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8B%D8%A7%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A%0D%0AMa%E2%80%99asyiral+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0AMarilah+kita+senantiasa+bertakwa+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+dengan+selalu+menjalankan+berbagai+ketaatan+kepada-Nya.+Di+antara+bentuk+ketaatan+yang+sangat+besar+keutamaannya+dan+sangat+penting+untuk+mendekatkan+diri+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+adalah+menyembelih+binatang+qurban.+Amalan+ini+merupakan+sunnah+Nabi+Ibrahim+%E2%80%98alaihissalam+dan+Nabi+kita+Muhammad+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Maka+seorang+muslim+yang+memiliki+kemampuan+semestinya+menjalankan+amal+ibadah+yang+mulia+ini%2C+yaitu+menyembelih+hewan+qurban%2C+baik+dia+lakukan+sendiri+dan+ini+lebih+afdhal%2C+atau+meminta+orang+lain+yang+mengetahui+hukum+dan+cara+penyembelihan+yang+syar%E2%80%99i+untuk+melakukan+penyembelihannya.+Namun+tidak+boleh+baginya+untuk+membayar+upah+penyembelihannya+dengan+sebagian+dari+hewan+qurbannya%2C+baik+itu+kepalanya%2C+kulitnya%2C+atau+yang+semisalnya.+Meskipun+boleh+baginya+untuk+memberinya+sebagai+sedekah+sebagaimana+diberikan+kepada+yang+lainnya+dari+kalangan+fakir+miskin.+Atau+bisa+pula+dia+memberikan+sebagian+dari+hewan+qurbannya+sebagai+hadiah%2C+sebagaimana+dia+berikan+pula+kepada+yang+lainnya+baik+tetangga+ataupun+kerabatnya+meskipun+mereka+orang+yang+kaya.+Dan+disunnahkan+bagi+orang+yang+berqurban+untuk+memakan+hewan+sembelihannya%2C+namun+tidak+boleh+baginya+untuk+menjual+bagian+apapun+dari+hewan+sembelihannya.+Begitu+pula+tidak+boleh+bagi+orang+yang+berqurban+untuk+memotong+rambut+dan+kukunya+dari+mulai+masuknya+awal+bulan+Dzulhijjah+sampai+dia+melakukan+ibadah+penyembelihan+hewan+qurban.+Yang+demikian+tadi+disebutkan+dalam+hadits-hadits+yang+shahih.%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%2C%0D%0ADisebutkan+pula+dalam+hadits+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%2C+bahwa+untuk+melaksanakan+ibadah+qurban+ini%2C+tujuh+orang+atau+kurang+bisa+bergabung+secara+bersama-sama+dengan+menyembelih+seekor+onta+atau+sapi.+Begitu+pula+bisa+dengan+menyembelih+seekor+kambing%2C+namun+itu+hanya+mencukupi+untuk+satu+orang.+Namun+dengan+menyembelih+satu+ekor+kambing+sudah+mencukupi+untuk+diri+dan+keluarganya%2C+baik+yang+masih+hidup+maupun+yang+sudah+meninggal+dunia.+Dengan+cara+dia+niatkan+pahalanya+untuk+dirinya+dan+seluruh+keluarganya+baik+yang+hidup+maupun+yang+telah+meninggal+dunia1.+Maka+semua+akan+mendapat+keutamaan+dan+pahala+yang+sangat+besar.+Wallahu+a%E2%80%99lam+bish-shawab.%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0AIbadah+menyembelih+qurban+ini+harus+dilakukan+sesuai+dengan+ketentuan+yang+telah+disyariatkan.+Baik+yang+berkaitan+dengan+waktu+penyembelihan+maupun+yang+berkaitan+dengan+kriteria+dan+syarat-syarat+hewan+yang+bisa+dijadikan+sebagai+hewan+qurban.+Adapun+yang+berkaitan+dengan+waktu+penyembelihan%2C+waktunya+adalah+dimulai+dari+setelah+selesai+shalat+Idul+Adha+dan+berakhir+waktunya+menurut+pendapat+yang+benar+hingga+tenggelamnya+matahari+pada+hari+ketiga+belas+di+bulan+Dzulhijjah.+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+bersabda%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%B0%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%8E+%D9%82%D9%8E%D8%A8%D9%92%D9%84%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%8E+%D9%81%D9%8E%D9%84%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%92+%D9%85%D9%8E%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8F%D8%AE%D9%92%D8%B1%D9%8E%D9%89%0D%0A%E2%80%9CBarangsiapa+yang+menyembelih+sebelum+shalat%2C+maka+sembelihlah+%28lagi%29+kambing+untuk+menggantikan+kambing+%28yang+disembelih+sebelum+saatnya%29+tersebut.%E2%80%9D+%28Muttafaqun+%E2%80%98alaih%29%0D%0A%0D%0AHadirin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%2C%0D%0AAdapun+berkaitan+dengan+syarat+hewan+yang+akan+dijadikan+sebagai+hewan+qurban%2C+hewan+tersebut+harus+sudah+mencapai+umur+yang+telah+ditentukan.+Juga+sebagaimana+disebutkan+dalam+sabda+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%2C+hewan+itu+bukanlah+hewan+yang+buta+satu+matanya+dan+sangat+jelas+butanya%2C+serta+bukan+pula+hewan+yang+terkena+sakit+dan+sangat+jelas+sakitnya.+Bukan+pula+hewan+yang+pincang+sehingga+tidak+bisa+berjalan+mengikuti+lainnya%2C+serta+bukan+hewan+yang+sudah+sangat+tua+sehingga+tidak+pantas+untuk+dikonsumsi+dagingnya.+Oleh+karena+itu%2C+wajib+bagi+kaum+muslimin+untuk+belajar+dan+bertanya+kepada+ahlinya+tentang+hal-hal+yang+berkaitan+dengan+ibadah+qurban+ini.%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0ASemestinya+seseorang+yang+berqurban+berusaha+untuk+mencari+sebaik-baik+hewan+yang+akan+dijadikan+sebagai+hewan+qurban.+Hewan+yang+tinggi+nilai%2Fharganya%2C+seperti+yang+banyak+dagingnya%2C+bagus+warnanya%2C+dan+kuat%2Fsehat+tubuhnya%2C+atau+yang+semisalnya.+Karena%2C+yang+demikian+termasuk+bentuk+pengagungan+terhadap+syi%E2%80%99ar-syi%E2%80%99ar+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+yang+menunjukkan+besarnya+ketakwaan+dirinya.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%
V5D958E%D8%B9%D9%8E%D8% 7%D8%A6%D9%90%D8%B1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D9%82%D9%92%D9%88%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A8%D9%90%0D%0A%E2%80%9CDan+barangsiapa+mengagungkan+syi%E2%80%99ar-syi%E2%80%99ar+Allah%2C+maka+sesungguhnya+itu+menunjukkan+ketakwaan+hati.%E2%80%9D+%28Al-Hajj%3A+32%29%0D%0AAkhirnya%2C+mudah-mudahan+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+senantiasa+memberikan+kepada+kita+petunjuk-Nya+sehingga+kita+bisa+menjalankan+ibadah+sebagaimana+yang+disyariatkan-Nya.+Dan+mudah-mudahan+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+tidak+menjadikan+kita+menjadi+orang+yang+sia-sia+amalannya%2C+karena+beribadah+dengan+tidak+ikhlas+atau+tidak+sesuai+dengan+petunjuk+Rasulullah+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+dan+Al-Khulafa%60+Ar-Rasyidin.+Sebagaimana+tersebut+dalam+firman-Nya%3A%0D%0A%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%92+%D9%87%D9%8E%D9%84%D9%92+%D9%86%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90%D8%A6%D9%8F%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%AE%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%8B.+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%B3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%8A%D9%8F%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%A9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8F%D9%86%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%90%D9%86%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B5%D9%8F%D9%86%D9%92%D8%B9%D9%8B%D8%A7%0D%0A%E2%80%9CKatakanlah%3A+%E2%80%98Apakah+akan+Kami+beritahukan+kepadamu+tentang+orang-orang+yang+paling+merugi+perbuatannya%3F+Yaitu+orang-orang+yang+telah+sia-sia+perbuatannya+dalam+kehidupan+dunia+ini%2C+sedangkan+mereka+menyangka+bahwa+mereka+berbuat+sebaik-baiknya%E2%80%99.%E2%80%9D+%28Al-Kahfi%3A+103-104%29%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%AC%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%92%D8%B6%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AE%D9%8F%D9%84%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92+%D8%A8%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D8%AB%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AC%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%89%D9%8E+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90.%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%90%D8%B2%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A5%D9%90%D8%B3%D9%92%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B4%D9%92%D8%B1%D9%90%D9%83%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E.+%D9%88%D9%8E%D8%AF%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%92%D8%B5%D9%8F%D8%B1%D9%92+%D8%B9%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8E%D9%83%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%91%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%81%D9%8A+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%85%D9%8E%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%92+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A4%D9%92%D9%85%D9%90%D9%86%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A4%D9%92%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%92%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D8%8C+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%B3%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B9%D9%8C+%D9%85%D9%8F%D8%AC%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%A8%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D8%8C+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%A2%D8%AA%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8F%D9%86%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%AD%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A2%D8%AE%D9%90%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D8%AD%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%B0%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90.%0D%0A%D8%B9%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+...+%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%8E+%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%86%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%8A%D9%8E%D8%B2%D9%90%D8%AF%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%B1%D9%8F%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%8A%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%8F+%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%AA%D9%8E%D8%B5%D9%92%D9%86%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E.%0D%0A%0D%0AFootnote+%3A%0D%0A1+Tentang+qurban+bagi+yang+telah+meninggal+dunia%2C+bisa+dilihat+penjelasannya+dalam+Kajian+Utama%2C+red.%0D%0A%0D%0A%28Sumber+%3A+%3Ca+href%3D%22http%3A%2F%2Fwww.asysyariah.com%2Fsyariah.php%3Fmenu%3Ddetil%26amp%3Bid_online%3D581%22+target%3D%22_blank%22%3Ehttp%3A%2F%2Fwww.asysyariah.com%2Fsyariah.php%3Fmenu%3Ddetil%26amp%3Bid_online%3D581%3C%2Fa%3E%29++%09%09%3C%2Fdiv%3E
%3Ca+onblur%3D%22try+%7Bparent.deselectBloggerImageGracefully%28%29%3B%7D+catch%28e%29+%7B%7D%22+href%3D%22http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F_yaHd8SS39Yw%2FTL2cXU6GKQI%2FAAAAAAAAAeY%2FZNQNcxajNGM%2Fs1600%2FML0094.JPG%22%3E%3Cimg+style%3D%22margin%3A+0px+auto+10px%3B+display%3A+block%3B+text-align%3A+center%3B+cursor%3A+pointer%3B+width%3A+320px%3B+height%3A+240px%3B%22+src%3D%22http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F_yaHd8SS39Yw%2FTL2cXU6GKQI%2FAAAAAAAAAeY%2FZNQNcxajNGM%2Fs320%2FML0094.JPG%22+alt%3D%22%22+id%3D%22BLOGGER_PHOTO_ID_5529747842044143874%22+border%3D%220%22+%2F%3E%3C%2Fa%3E%0D%0A%3Cdiv+style%3D%22text-align%3A+center%3B%22%3E%0D%0APenulis%3A+Al-Ustadz+Saifuddin+Zuhri%2C+Lc.%0D%0A%0D%0A%09%09%3C%2Fdiv%3E%3Cdiv+style%3D%22text-align%3A+justify%3B%22+class%3D%22article-index-content%22%3E+%09%09%09+%09%09%09%09%0D%0A%09%09%09+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AF%D9%8E+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%86%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B0%D9%8F+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B4%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%81%D9%8F%D8%B3%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%90%D8%A6%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%87%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%B6%D9%90%D9%84%D9%91%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B6%D9%92%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92+%D9%81%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%87%D9%8F.%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A2%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%AD%D9%8E%D9%82%D9%91%D9%8E+%D8%AA%D9%8F%D9%82%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%AA%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92%D8%AA%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%85%D9%91%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E.+%5B%D8%A2%D9%84+%D8%B9%D9%85%D8%B1%D8%A7%D9%86%3A+102%5D%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B3%D9%8F+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A+%D8%AE%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%92%D8%B3%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AD%D9%90%D8%AF%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%AE%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%B2%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%AC%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D8%AB%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%B1%D9%90%D8%AC%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D9%83%D9%8E%D8%AB%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8B%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%90%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%B1%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%B1%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%8A%D8%A8%D9%8B%D8%A7+%5B%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%B3%D8%A7%D8%A1%3A+1%5D%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%86%D9%8E+%D8%A2%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D9%82%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D8%B3%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D9%8A%D9%8F%D8%B5%D9%92%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%92+%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%92+%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%B0%D9%8F%D9%86%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A8%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B7%D9%90%D8%B9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%AF%D9%92+%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B2%D9%8E+%D9%81%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%B2%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8B%D8%A7+%5B%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%AD%D8%B2%D8%A7%D8%A8%3A+70-71%5D%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%82%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%AB%D9%90+%D9%83%D9%90%D8%AA%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%AE%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%92%D9%8A%D9%90+%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%92%D9%8A%D9%8F+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8F%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%90+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%AB%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8F%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%AB%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D8%A8%D9%90%D8%AF%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A9%D9%8C+%D9%88%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D8%AF%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%8C+%D9%88%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%A9%D9%8D+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A%0D%0AMa%E2%80%99asyiral+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0AMarilah+kita+senantiasa+bertakwa+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala+dengan+menjalankan+perintah-perintah-Nya+sekuat+kemampuan+kita%2C+serta+dengan+menjauhi+segala+larangan-Nya.+Dan+marilah+kita+senantiasa+mengingat+bahwa+dunia+yang+kita+tempati+ini+bukanlah+tempat+tinggal+selamanya.+Bahkan+sebenarnya+kita+sedang+dalam+suatu+perjalanan+menuju+tempat+tinggal+yang+sesungguhnya+di+alam+akhirat+nanti.+Telah+banyak+orang+yang+dulunya+bersama+kita+atau+bahkan+dahulu+tinggal+satu+rumah+dengan+kita%2C+telah+melewati+dan+meninggalkan+dunia+ini.+Mereka+telah+meninggalkan+tempat+beramal+di+dunia+ini+menuju+tempat+perhitungan+dan+pembalasan+amalan.+Akan+segera+datang+pula+saatnya+kita+menyusul+mereka.+Maka%2C+marilah+kita+manfaatkan+dunia+ini+sebagai+tempat+mencari+bekal+untuk+kehidupan+akhirat+kita.+Sungguh+seseorang+akan+menyesal+ketika+pada+hari+perhitungan+amal+nanti+dia+datang+dalam+keadaan+tidak+membawa+amal+shalih.+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+berfirman%3A%0D%0A%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A6%D9%90%D8%B0%D9%8D+%D9%8A%D9%8E%D8%AA%D9%8E%D8%B0%D9%8E%D9%83%D9%91%D9%8E%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%89+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%91%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8E%D9%89.+%D9%8A%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F+%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%AA%D9%8E%D9%86%D9%90%D9%8A+%D9%82%D9%8E%D8%AF%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AA%D9%8F+%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D9%8A%0D%0A%E2%80%9CPada+hari+itu+ingatlah+manusia%2C+akan+tetapi+tidak+berguna+lagi+mengingat+itu+baginya.+Dia+mengatakan%3A+%E2%80%98Alangkah+baiknya+kiranya+aku+dahulu+mengerjakan+%28amal+shalih%29+untuk+hidupku+%28di+akhirat%29+ini%E2%80%99.%E2%80%9D+%28Al-Fajr%3A+23-24%29%0D%0A%0D%0AHadirin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C%0D%0ADi+dalam+perjalanan+hidup+di+dunia+ini%2C+kita+akan+menjumpai+hari-hari+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+berikan+keutamaan+di+dalamnya.+Yaitu+dengan+dilipatgandakannya+balasan+amalan+dengan+pahala+yang+berlipat%2C+tidak+seperti+hari-hari+biasanya.+Di+antara+hari-hari+tersebut+adalah+sepuluh+hari+pertama+di+bulan+Dzulhijjah.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+di+dalam+sabda+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%84%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%87%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%90+-+%D9%8A%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%86%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B4%D9%92%D8%B1%D9%90.+%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A7%3A+%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%90%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90%D8%9F+%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%90%D9%87%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%B1%D9%8E%D8%AC%D9%8F%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D8%AE%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%AC%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%92%D8%B3%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%AB%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D8%B1%D9%92%D8%AC%D9%90%D8%B9%D9%92+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%B0%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D8%A8%D9%90%D8%B4%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%A1%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CTidaklah+ada+hari+yang+amal+shalih+di+dalamnya+lebih+dicintai+oleh+Allah+dari+hari-hari+tersebut+%28yaitu+sepuluh+hari+pertama+bulan+Dzulhijjah%29.%E2%80%9D+Para+sahabat+pun+bertanya%3A+%E2%80%9CWahai+Rasulullah%2C+apakah+jihad+di+jalan+Allah+tidak+lebih+utama%3F%E2%80%9D+Rasulullah+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+berkata%3A+%E2%80%9CTidaklah+jihad+lebih+utama+%28dari+beramal+di+hari-hari+tersebut%29%2C+kecuali+orang+yang+keluar+%28berjihad%29+dengan+jiwa+dan+hartanya%2C+kemudian+tidak+kembali+dengan+keduanya+%28karena+mati+syahid%29.%E2%80%9D+%28HR.+Al-Bukhari%29%0D%0A%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C%0D%0APada+sepuluh+hari+yang+pertama+ini%2C+kita+juga+disyariatkan+untuk+banyak+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%27ala%2C+baik+itu+berupa+ucapan+takbir%2C+tahmid%2C+maupun+tahlil.+Hal+ini+sebagaimana+yang+disebutkan+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CDan+supaya+mereka+berdzikir+menyebut+nama+Allah+pada+hari+yang+telah+ditentukan.%E2%80%9D+%28Al-Hajj%3A+28%29%0D%0ADiterangkan+oleh+para+ulama+bahwa+hari-hari+yang+ditentukan+pada+ayat+tersebut+adalah+sepuluh+hari+awal+bulan+Dzulhijjah.+Maka+hadits+dan+ayat+tadi+menunjukkan+keutamaan+hari-hari+tersebut+dan+betapa+besarnya+rahmat+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+kepada+hamba-hamba-Nya.+Karena+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+masih+memberikan+kesempatan+bagi+orang+yang+belum+mampu+menjalankan+ibadah+haji+untuk+mendapatkan+keutamaan+yang+besar+pula%2C+yaitu+beramal+shalih+pada+sepuluh+hari+pertama+di+bulan+Dzulhijjah.+Sehingga+sudah+semestinya+kaum+muslimin+memanfaatkan+sepuluh+hari+pertama+ini+dengan+berbagai+amalan+ibadah%2C+seperti+berdoa%2C+dzikir%2C+sedekah%2C+dan+sebagainya.+Termasuk+amal+ibadah+yang+disyariatkan+untuk+dikerjakan+pada+hari-hari+tersebut+%E2%80%93kecuali+hari+yang+kesepuluh%E2%80%93+adalah+puasa.+Apalagi+ketika+menjumpai+hari+Arafah%2C+yaitu+hari+kesembilan+di+bulan+Dzulhijjah%2C+sangat+ditekankan+bagi+kaum+muslimin+untuk+berpuasa+yang+dikenal+dengan+istilah+puasa+Arafah%2C+kecuali+bagi+jamaah+haji+yang+sedang+wukuf+di+Arafah.+Hal+ini+sebagaimana+yang+disabdakan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+ketika+ditanya+tentang+puasa+hari+Arafah%2C+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+menjawab%3A%0D%0A%D9%8A%D9%8F%D9%83%D9%8E%D9%81%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%91%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%B6%D9%90%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D9%82%D9%90%D9%8A%D9%8E%D8%A9%D9%8E%0D%0A%E2%80%9C%28Puasa+Arafah%29+menghapus+dosa-dosa+setahun+yang+lalu+dan+yang+akan+datang.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0AAdapun+bagi+para+jamaah+haji%2C+mereka+tidak+diperbolehkan+untuk+berpuasa%2C+karena+pada+hari+itu+mereka+harus+melakukan+wukuf.+Karena+mereka+memerlukan+cukup+kekuatan+untuk+memperbanyak+dzikir+dan+doa+pada+saat+wukuf+di+Arafah.+Sehingga+pada+hari+tersebut+kita+semua+berharap+untuk+mendapatkan+keutamaan+yang+sangat+besar+serta+ampunan+dari+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.+Karena+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+menyebutkan+bahwa+hari+itu+adalah+hari+pengampunan+dosa-dosa+dan+hari+dibebaskannya+hamba-hamba+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+kehendaki+dari+api+neraka.+Sebagaimana+dalam+sabda+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%8D+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%AB%D9%8E%D8%B1%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B9%D9%92%D8%AA%D9%90%D9%82%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A9%D9%8E%0D%0A%E2%80%9CTidak+ada+hari+yang+Allah+membebaskan+hamba-hamba+dari+api+neraka%2C+lebih+banyak+daripada+di+hari+Arafah.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0APada+bulan+Dzulhijjah+juga+ada+hari+yang+sangat+istimewa+yang+dikenal+dengan+istilah+hari+nahr.+Yaitu+hari+kesepuluh+di+bulan+tersebut%2C+di+saat+kaum+muslimin+merayakan+Idul+Adha+dan+menjalankan+shalat+Id+serta+memulai+ibadah+penyembelihan+qurbannya%2C+sementara+para+jamaah+haji+menyempurnakan+amalan+hajinya.+Begitu+pula+hari-hari+yang+datang+setelahnya%2C+yang+dikenal+dengan+istilah+hari+tasyriq%2C+yaitu+hari+yang+kesebelas%2C+keduabelas%2C+dan+ketigabelas.+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+mengkhususkan+hari-hari+tersebut+sebagai+hari-hari+untuk+makan%2C+minum%2C+dan+berdzikir.+Dan+hari-hari+itulah+yang+menurut+keterangan+para+ulama+adalah+hari+yang+disebutkan+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8D+%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%8D%0D%0A%E2%80%9CDan+berdzikirlah+%28dengan+menyebut%29+Allah+dalam+beberapa+hari+yang+berbilang.%E2%80%9D+%28Al-Baqarah%3A+203%29%0D%0ADan+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+juga+menyebutkan+tentang+hari-hari+tersebut%3A%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8F+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E%D9%89+%D8%A3%D9%8E%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%85%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D9%84%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B4%D9%8F%D8%B1%D9%92%D8%A8%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8D+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%B9%D9%8E%D8%B2%D9%91%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%AC%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%0D%0A%E2%80%9CHari-hari+Mina+%28hari+nahr+dan+tasyriq%29+adalah+hari-hari+makan+dan+minum+serta+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.%E2%80%9D+%28HR.+Muslim%29%0D%0A%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0ABerkaitan+dengan+dzikir+yang+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+perintahkan+kaum+muslimin+untuk+banyak+mengucapkannya+pada+hari-hari+tasyriq+dan+hari-hari+sebelumnya+di+awal+bulan+Dzulhijjah%2C+para+ulama+dalam+Al-Lajnah+Ad-Da%60imah+menyebutkan+fatwa+sebagai+berikut%3A%0D%0A%E2%80%9CDisyariatkan+pada+Idul+Adha+takbir+mutlak+dan+takbir+muqayyad.+Adapun+takbir+mutlak+maka+%28disyariatkan+untuk+dilakukan%29+pada+seluruh+waktu+dari+mulai+awal+masuknya+bulan+Dzulhijjah+sampai+hari+yang+terakhir+dari+hari-hari+tasyriq.+Sedangkan+takbir+muqayyad+%28disyariatkan+untuk+dilakukan%29+pada+setiap+selesai+shalat+wajib+mulai+dari+setelah+selesai+shalat+subuh+pada+hari+Arafah+sampai+setelah+shalat+%E2%80%98Ashr+pada+akhir+hari+tasyriq.+Dan+pensyariatkan+hal+tersebut+ditunjukkan+oleh+ijma%E2%80%99+dan+perbuatan+para+shahabat+radhiyallahu+%27anhum.%E2%80%9D%0D%0ASebagaimana+ibadah+lainnya%2C+dzikir+juga+merupakan+suatu+amalan+yang+tata+caranya+tidak+boleh+menyimpang+dari+petunjuk+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Sehingga+para+ulama+juga+memberikan+peringatan+dari+dilakukannya+takbir+secara+jama%E2%80%99i%2C+karena+hal+itu+tidak+pernah+dilakukan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+dan+Al-Khulafa%60+Ar-Rasyidin.+Yang+dimaksud+di+sini+adalah+takbir+yang+diucapkan+secara+bersama-sama+dengan+satu+suara+dan+dipimpin+oleh+seseorang.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+dalam+fatwa+para+ulama+dalam+Al-Lajnah+Ad-Da%60imah+yang+isinya%3A+%E2%80%9C%28Yang+benar%29+adalah+setiap+orang+melakukan+takbir+sendiri-sendiri+dengan+suara+keras.+Karena+sesungguhnya+takbir+dengan+cara+bersama-sama+%28dengan+satu+suara+yang+dipimpin+oleh+seseorang%29+tidak+pernah+dilakukan+oleh+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Dan+beliau+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+telah+bersabda%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%84%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8B+%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B3%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%B1%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E+%D8%B1%D9%8E%D8%AF%D9%91%D9%8C%0D%0A%E2%80%9CBarangsiapa+yang+mengamalkan+amalan+yang+tidak+ada+syariatnya+dari+kami+maka+amalan+tersebut+ditolak.%E2%80%9D+%28HR.+Al-Bukhari+Muslim%29%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0AAkhirnya%2C+marilah+kita+berusaha+memanfaatkan+hari-hari+yang+penuh+dengan+keutamaan+untuk+menambah+dan+meningkatkan+amal+shalih+kita.+Begitu+pula+kita+manfaatkan+waktu+yang+ada+untuk+memperbanyak+dzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.+Sehingga+kita+akan+menjadi+orang+yang+mendapatkan+kelapangan+hati%2C+senantiasa+takut+kepada-Nya+dan+terjaga+dari+gangguan+setan%2C+serta+faedah+lainnya+dari+amalan+berdzikir+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala.%0D%0A%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B0%D9%8F+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%91%D9%8E%D9%8A%D9%92%D8%B7%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AC%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90.+%7B%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%90%D9%8A+%D8%A3%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D9%84%D9%90%D9%8A+%D9%88%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%83%D9%92%D9%81%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%90%7D.%0D%0A%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%8E%D9%83%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%82%D9%8F%D8%B1%D9%92%D8%A2%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%8E%D8%A7%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A2%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%91%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%83%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90.+%D8%A3%D9%8E%D9%82%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F+%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%90%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D8%A6%D9%90%D8%B1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%90%D9%91+%D8%B0%D9%8E%D9%86%D9%92%D8%A8%D9%8D%D8%8C+%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%87%D9%8F%D9%88%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%BA%D9%8E%D9%81%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8F.%0D%0A%0D%0A%0D%0AKhutbah+Kedua%0D%0A%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%92%D8%AF%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B9%D9%90+%D8%B5%D9%90%D8%B1%D9%8E%D8%A7%D8%B7%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D8%AA%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90+%D9%88%D9%8E%D9%86%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90+%D8%A7%D8%AA%D9%91%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%B9%D9%90+%D8%B3%D9%8F%D8%A8%D9%8F%D9%84%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8E+%D8%A5%D9%90%D9%84%D8%A7%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%AF%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D9%84%D8%A7%D9%8E+%D8%B4%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%B1%D9%91%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B4%D9%92%D9%87%D9%8E%D8%AF%D9%8F+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8B%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%8F%D9%87%D9%8F+%D8%A8%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%BA%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A8%D9%8E%D9%84%D8%A7%D9%8E%D8%BA%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E%3A+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%B3%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%AA%D9%90%D9%8A+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AE%D9%8F%D9%84%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%8A%D9%92%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%82%D9%91%D9%8E%D9%88%D9%92%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%BA%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D8%AA%D9%8E%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8B%D8%A7+%D9%83%D9%8E%D8%AB%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B1%D9%8B%D8%A7%D8%8C+%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%A7+%D8%A8%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8F%3A%0D%0AMa%E2%80%99asyiral+muslimin+rahimakumullah%2C%0D%0AMarilah+kita+senantiasa+bertakwa+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+dengan+selalu+menjalankan+berbagai+ketaatan+kepada-Nya.+Di+antara+bentuk+ketaatan+yang+sangat+besar+keutamaannya+dan+sangat+penting+untuk+mendekatkan+diri+kepada+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+adalah+menyembelih+binatang+qurban.+Amalan+ini+merupakan+sunnah+Nabi+Ibrahim+%E2%80%98alaihissalam+dan+Nabi+kita+Muhammad+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam.+Maka+seorang+muslim+yang+memiliki+kemampuan+semestinya+menjalankan+amal+ibadah+yang+mulia+ini%2C+yaitu+menyembelih+hewan+qurban%2C+baik+dia+lakukan+sendiri+dan+ini+lebih+afdhal%2C+atau+meminta+orang+lain+yang+mengetahui+hukum+dan+cara+penyembelihan+yang+syar%E2%80%99i+untuk+melakukan+penyembelihannya.+Namun+tidak+boleh+baginya+untuk+membayar+upah+penyembelihannya+dengan+sebagian+dari+hewan+qurbannya%2C+baik+itu+kepalanya%2C+kulitnya%2C+atau+yang+semisalnya.+Meskipun+boleh+baginya+untuk+memberinya+sebagai+sedekah+sebagaimana+diberikan+kepada+yang+lainnya+dari+kalangan+fakir+miskin.+Atau+bisa+pula+dia+memberikan+sebagian+dari+hewan+qurbannya+sebagai+hadiah%2C+sebagaimana+dia+berikan+pula+kepada+yang+lainnya+baik+tetangga+ataupun+kerabatnya+meskipun+mereka+orang+yang+kaya.+Dan+disunnahkan+bagi+orang+yang+berqurban+untuk+memakan+hewan+sembelihannya%2C+namun+tidak+boleh+baginya+untuk+menjual+bagian+apapun+dari+hewan+sembelihannya.+Begitu+pula+tidak+boleh+bagi+orang+yang+berqurban+untuk+memotong+rambut+dan+kukunya+dari+mulai+masuknya+awal+bulan+Dzulhijjah+sampai+dia+melakukan+ibadah+penyembelihan+hewan+qurban.+Yang+demikian+tadi+disebutkan+dalam+hadits-hadits+yang+shahih.%0D%0ASaudara-saudaraku+kaum+muslimin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%2C%0D%0ADisebutkan+pula+dalam+hadits+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%2C+bahwa+untuk+melaksanakan+ibadah+qurban+ini%2C+tujuh+orang+atau+kurang+bisa+bergabung+secara+bersama-sama+dengan+menyembelih+seekor+onta+atau+sapi.+Begitu+pula+bisa+dengan+menyembelih+seekor+kambing%2C+namun+itu+hanya+mencukupi+untuk+satu+orang.+Namun+dengan+menyembelih+satu+ekor+kambing+sudah+mencukupi+untuk+diri+dan+keluarganya%2C+baik+yang+masih+hidup+maupun+yang+sudah+meninggal+dunia.+Dengan+cara+dia+niatkan+pahalanya+untuk+dirinya+dan+seluruh+keluarganya+baik+yang+hidup+maupun+yang+telah+meninggal+dunia1.+Maka+semua+akan+mendapat+keutamaan+dan+pahala+yang+sangat+besar.+Wallahu+a%E2%80%99lam+bish-shawab.%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0AIbadah+menyembelih+qurban+ini+harus+dilakukan+sesuai+dengan+ketentuan+yang+telah+disyariatkan.+Baik+yang+berkaitan+dengan+waktu+penyembelihan+maupun+yang+berkaitan+dengan+kriteria+dan+syarat-syarat+hewan+yang+bisa+dijadikan+sebagai+hewan+qurban.+Adapun+yang+berkaitan+dengan+waktu+penyembelihan%2C+waktunya+adalah+dimulai+dari+setelah+selesai+shalat+Idul+Adha+dan+berakhir+waktunya+menurut+pendapat+yang+benar+hingga+tenggelamnya+matahari+pada+hari+ketiga+belas+di+bulan+Dzulhijjah.+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+bersabda%3A%0D%0A%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%B0%D9%8E%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%8E+%D9%82%D9%8E%D8%A8%D9%92%D9%84%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%8E+%D9%81%D9%8E%D9%84%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%AD%D9%92+%D9%85%D9%8E%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D8%A3%D9%8F%D8%AE%D9%92%D8%B1%D9%8E%D9%89%0D%0A%E2%80%9CBarangsiapa+yang+menyembelih+sebelum+shalat%2C+maka+sembelihlah+%28lagi%29+kambing+untuk+menggantikan+kambing+%28yang+disembelih+sebelum+saatnya%29+tersebut.%E2%80%9D+%28Muttafaqun+%E2%80%98alaih%29%0D%0A%0D%0AHadirin+yang+mudah-mudahan+senantiasa+dirahmati+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%2C%0D%0AAdapun+berkaitan+dengan+syarat+hewan+yang+akan+dijadikan+sebagai+hewan+qurban%2C+hewan+tersebut+harus+sudah+mencapai+umur+yang+telah+ditentukan.+Juga+sebagaimana+disebutkan+dalam+sabda+Nabi+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam%2C+hewan+itu+bukanlah+hewan+yang+buta+satu+matanya+dan+sangat+jelas+butanya%2C+serta+bukan+pula+hewan+yang+terkena+sakit+dan+sangat+jelas+sakitnya.+Bukan+pula+hewan+yang+pincang+sehingga+tidak+bisa+berjalan+mengikuti+lainnya%2C+serta+bukan+hewan+yang+sudah+sangat+tua+sehingga+tidak+pantas+untuk+dikonsumsi+dagingnya.+Oleh+karena+itu%2C+wajib+bagi+kaum+muslimin+untuk+belajar+dan+bertanya+kepada+ahlinya+tentang+hal-hal+yang+berkaitan+dengan+ibadah+qurban+ini.%0D%0A%0D%0AHadirin+rahimakumullah%2C%0D%0ASemestinya+seseorang+yang+berqurban+berusaha+untuk+mencari+sebaik-baik+hewan+yang+akan+dijadikan+sebagai+hewan+qurban.+Hewan+yang+tinggi+nilai%2Fharganya%2C+seperti+yang+banyak+dagingnya%2C+bagus+warnanya%2C+dan+kuat%2Fsehat+tubuhnya%2C+atau+yang+semisalnya.+Karena%2C+yang+demikian+termasuk+bentuk+pengagungan+terhadap+syi%E2%80%99ar-syi%E2%80%99ar+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+yang+menunjukkan+besarnya+ketakwaan+dirinya.+Hal+ini+sebagaimana+tersebut+dalam+firman+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala%3A%0D%0A%D9%88%D9%8E%D9%85%D9%8E%D9%86%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%
V5D958E%D8%B9%D9%8E%D8% 7%D8%A6%D9%90%D8%B1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D9%81%D9%8E%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8E%D8%A7+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92+%D8%AA%D9%8E%D9%82%D9%92%D9%88%D9%8E%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%8F%D9%88%D9%92%D8%A8%D9%90%0D%0A%E2%80%9CDan+barangsiapa+mengagungkan+syi%E2%80%99ar-syi%E2%80%99ar+Allah%2C+maka+sesungguhnya+itu+menunjukkan+ketakwaan+hati.%E2%80%9D+%28Al-Hajj%3A+32%29%0D%0AAkhirnya%2C+mudah-mudahan+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+senantiasa+memberikan+kepada+kita+petunjuk-Nya+sehingga+kita+bisa+menjalankan+ibadah+sebagaimana+yang+disyariatkan-Nya.+Dan+mudah-mudahan+Allah+Subhanahu+wa+Ta%E2%80%99ala+tidak+menjadikan+kita+menjadi+orang+yang+sia-sia+amalannya%2C+karena+beribadah+dengan+tidak+ikhlas+atau+tidak+sesuai+dengan+petunjuk+Rasulullah+Shallallahu+%E2%80%98alaihi+wa+sallam+dan+Al-Khulafa%60+Ar-Rasyidin.+Sebagaimana+tersebut+dalam+firman-Nya%3A%0D%0A%D9%82%D9%8F%D9%84%D9%92+%D9%87%D9%8E%D9%84%D9%92+%D9%86%D9%8F%D9%86%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%90%D8%A6%D9%8F%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%AE%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%B1%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%8B.+%D8%A7%D9%84%D9%91%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B6%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%B3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%8A%D9%8F%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AD%D9%8E%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%A9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8F%D9%86%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D9%88%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8E%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A8%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%8A%D9%8F%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%90%D9%86%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%B5%D9%8F%D9%86%D9%92%D8%B9%D9%8B%D8%A7%0D%0A%E2%80%9CKatakanlah%3A+%E2%80%98Apakah+akan+Kami+beritahukan+kepadamu+tentang+orang-orang+yang+paling+merugi+perbuatannya%3F+Yaitu+orang-orang+yang+telah+sia-sia+perbuatannya+dalam+kehidupan+dunia+ini%2C+sedangkan+mereka+menyangka+bahwa+mereka+berbuat+sebaik-baiknya%E2%80%99.%E2%80%9D+%28Al-Kahfi%3A+103-104%29%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B5%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%84%D9%91%D9%90%D9%85%D9%92+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%B9%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%AF%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B1%D9%8E%D8%B3%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%84%D9%90%D9%83%D9%8E+%D9%85%D9%8F%D8%AD%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%8E%D8%AF%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D8%A2%D9%84%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D8%AC%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%92%D8%B6%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%90+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AE%D9%8F%D9%84%D9%8E%D9%81%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B1%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%A8%D9%90%D9%8A%D9%92+%D8%A8%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%85%D9%8E%D8%B1%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D8%AB%D9%92%D9%85%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%91%D9%8D+%D9%88%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92+%D8%AC%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B9%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%91%D9%8E%D8%AD%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%90%D8%B9%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%84%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D8%A8%D9%90%D8%A5%D9%90%D8%AD%D9%92%D8%B3%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D+%D8%A5%D9%90%D9%84%D9%89%D9%8E+%D9%8A%D9%8E%D9%88%D9%92%D9%85%D9%90+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90.%0D%0A%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%90%D8%B2%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A5%D9%90%D8%B3%D9%92%D9%84%D8%A7%D9%8E%D9%85%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A3%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%84%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B4%D9%92%D8%B1%D9%90%D9%83%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E.+%D9%88%D9%8E%D8%AF%D9%8E%D9%85%D9%91%D9%90%D8%B1%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%B9%D9%92%D8%AF%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%90%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%92%D8%B5%D9%8F%D8%B1%D9%92+%D8%B9%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8E%D9%83%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D9%88%D9%8E%D8%AD%D9%91%D9%90%D8%AF%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A3%D9%8E%D8%B5%D9%92%D9%84%D9%90%D8%AD%D9%92+%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%81%D9%8A+%D9%83%D9%8F%D9%84%D9%91%D9%90+%D9%85%D9%8E%D9%83%D9%8E%D8%A7%D9%86%D9%8D.+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%91%D9%8E+%D8%A7%D8%BA%D9%92%D9%81%D9%90%D8%B1%D9%92+%D9%84%D9%90%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%B3%D9%92%D9%84%D9%90%D9%85%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A4%D9%92%D9%85%D9%90%D9%86%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%86%D9%8E+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%92%D9%85%D9%8F%D8%A4%D9%92%D9%85%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D8%AD%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7%D8%A1%D9%90+%D9%85%D9%90%D9%86%D9%92%D9%87%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A3%D9%8E%D9%85%D9%92%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D8%8C+%D8%A5%D9%90%D9%86%D9%91%D9%8E%D9%87%D9%8F+%D8%B3%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%B9%D9%8C+%D9%85%D9%8F%D8%AC%D9%90%D9%8A%D9%92%D8%A8%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8E%D8%B9%D9%8E%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%AA%D9%90%D8%8C+%D8%B1%D9%8E%D8%A8%D9%91%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%A2%D8%AA%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%91%D9%8F%D9%86%D9%92%D9%8A%D9%8E%D8%A7+%D8%AD%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D9%81%D9%90%D9%8A+%D8%A7%D9%92%D9%84%D8%A2%D8%AE%D9%90%D8%B1%D9%8E%D8%A9%D9%90+%D8%AD%D9%8E%D8%B3%D9%8E%D9%86%D9%8E%D8%A9%D9%8B+%D9%88%D9%8E%D9%82%D9%90%D9%86%D9%8E%D8%A7+%D8%B9%D9%8E%D8%B0%D9%8E%D8%A7%D8%A8%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%86%D9%91%D9%8E%D8%A7%D8%B1%D9%90.%0D%0A%D8%B9%D9%90%D8%A8%D9%8E%D8%A7%D8%AF%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+...+%D8%A7%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D8%A7+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%B9%D9%8E%D8%B8%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%85%D9%8E+%D8%A7%D9%84%D9%92%D8%AC%D9%8E%D9%84%D9%90%D9%8A%D9%92%D9%84%D9%8E+%D9%8A%D9%8E%D8%B0%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D8%B4%D9%92%D9%83%D9%8F%D8%B1%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%87%D9%8F+%D8%B9%D9%8E%D9%84%D9%8E%D9%89+%D9%86%D9%90%D8%B9%D9%8E%D9%85%D9%90%D9%87%D9%90+%D9%8A%D9%8E%D8%B2%D9%90%D8%AF%D9%92%D9%83%D9%8F%D9%85%D9%92%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D9%84%D9%8E%D8%B0%D9%90%D9%83%D9%92%D8%B1%D9%8F+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%90+%D8%A3%D9%8E%D9%83%D9%92%D8%A8%D9%8E%D8%B1%D9%8F%D8%8C+%D9%88%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87%D9%8F+%D9%8A%D9%8E%D8%B9%D9%92%D9%84%D9%8E%D9%85%D9%8F+%D9%85%D9%8E%D8%A7+%D8%AA%D9%8E%D8%B5%D9%92%D9%86%D9%8E%D8%B9%D9%8F%D9%88%D9%92%D9%86%D9%8E.%0D%0A%0D%0AFootnote+%3A%0D%0A1+Tentang+qurban+bagi+yang+telah+meninggal+dunia%2C+bisa+dilihat+penjelasannya+dalam+Kajian+Utama%2C+red.%0D%0A%0D%0A%28Sumber+%3A+%3Ca+href%3D%22http%3A%2F%2Fwww.asysyariah.com%2Fsyariah.php%3Fmenu%3Ddetil%26amp%3Bid_online%3D581%22+target%3D%22_blank%22%3Ehttp%3A%2F%2Fwww.asysyariah.com%2Fsyariah.php%3Fmenu%3Ddetil%26amp%3Bid_online%3D581%3C%2Fa%3E%29++%09%09%3C%2Fdiv%3E
Keutamaan Bulan Dzulhijjah
View detail
Amalan yang dianjurkan dalam sepuluh hari Dzulhijjah

Amalan yang dianjurkan dalam sepuluh hari Dzulhijjah


Penulis: Depag Saudi Arabia



Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera mengerjakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.

b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, dia berkata:
Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “Sangat disunnahkan “.

c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : "Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu ".

Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.

Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.
d. Puasa hari Arafah.
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:
Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)

e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah). Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar.

Hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.

Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجةأحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك, Edisi Indonesia "Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah". Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah & Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)

Penulis: Depag Saudi Arabia



Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :
a. Shalat :
Disunnahkan bersegera mengerjakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :
Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu
Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.

b. Shoum (Puasa) :
Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, dia berkata:
Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).
Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “Sangat disunnahkan “.

c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.
Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : "Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu ".

Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.

Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.
d. Puasa hari Arafah.
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:
Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)

e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah). Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar.

Hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.

Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجةأحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك, Edisi Indonesia "Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah". Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah & Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)
Amalan yang dianjurkan dalam sepuluh hari Dzulhijjah
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzZ5bBjmWmB3zWb3olObsXysWfXbO0CLnOOcJTzj04_xEVDfQtqPbc1IRDkB-SspJhgQ32i6slpehyAWPSJ_Ju4nN4lJEA88z3rztPE_RxQqde9ykcKzUUaH4OX-7oLluNr9OQraTy3SMU/s72-c/GR009.JPG
View detail
Bagaimana mengisi bulan Dzulhijjah ?

Bagaimana mengisi bulan Dzulhijjah ?


Penulis: Depag Saudi Arabia



BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??

Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)

Wahai akhi muslim……………
Berusahalah untuk mendapatkan kesempatan yang baik ini sebelum hilang dari hadapan anda dan anda akan menyesal, betapa buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena sesungguhnya dunia ini sangat sedikit harinya dan kita sekarang di kampung amal perbuatan dan besok kita akan berada di kampung pembalasan, perhitungan, syurga dan neraka. Maka jadilah anda orang-orang yang Allah sifatkan dalam firman-Nya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami (Al Anbiya 90).


(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك , Edisi Indonesia "Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah". Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah & Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)

Penulis: Depag Saudi Arabia



BAGAIMANA KITA MENYAMBUT BULAN KEBAIKAN INI ??

Hendaklah setiap muslim berupaya untuk menyambut musim kebaikan ini secara umum dengan taubatan nasuha (taubat sungguh-sungguh), meninggalkan dosa dan kemaksiatan, karena dosa-dosalah yang mencegah dari manusia karunia rabb-Nya, dan menutup hatinya dari Tuhannya. Begitu juga dituntut untuk menyambut musim ini dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keuntungan atas apa yang Allah ridhoi. Maka siapa yang benar dengan tekadnya Allah akan beri dia petunjuk :
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا [العنكبوت : 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami “ (Al Ankabut 69)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luas-nya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa “ (Ali Imran 133)

Wahai akhi muslim……………
Berusahalah untuk mendapatkan kesempatan yang baik ini sebelum hilang dari hadapan anda dan anda akan menyesal, betapa buruknya waktu bagi orang yang menyesal. Karena sesungguhnya dunia ini sangat sedikit harinya dan kita sekarang di kampung amal perbuatan dan besok kita akan berada di kampung pembalasan, perhitungan, syurga dan neraka. Maka jadilah anda orang-orang yang Allah sifatkan dalam firman-Nya :
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harapan dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami (Al Anbiya 90).


(Dinukil dari فضل عشر ذي الحجة أحكام الأضحية وعيد الأضحى المبارك , Edisi Indonesia "Keutamaan sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah & Hukum berkurban dan ‘Iedhul Adha yang berbarakah". Seksi Terjemah Kantor Sosial, Dakwah & Penyuluhan Bagi Pendatang, Pemerintah Saudi Arabia)
Bagaimana mengisi bulan Dzulhijjah ?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4kfKhID4C5oLeJbbTYv68dqvty_DGieiwX4mX5oN6xS6ioX-XvqnHDKdaviNCDFKRowlh6Z5-z3zKXQKxqqAdUyKdJibz0BXuZ-QHK_MjPgHUU_7f8fwYNh1GPGjLcOy3XEBmNZ1HV6Kx/s72-c/FL047.JPG
View detail
Berpuasa & Berhari Raya Bersama Penguasa

Berpuasa & Berhari Raya Bersama Penguasa


Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu diantaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat diantara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”
Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).

Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”
Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.
2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.
3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)
Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:

Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa
 Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)
 Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini [1] dengan ucapan (mereka): ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
 Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
 Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani [2] berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)
 Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu 'anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu 'anhu.
Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)
 Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas engkau dengan kebaikan.”
Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)
 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”
Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)
Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)
 Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”
Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)

Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.
Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.
Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kalam-Nya nan suci:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)
Adapun baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Diantaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا
“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)
2. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)
3. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)
Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:
 Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)
 Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)
 Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)
 Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)
 Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, diantaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)
 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)

Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.
2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.
3. Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.
4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.
5. Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).
Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote :
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
2. Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau di atas.

(Dikutip dari Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol.III/No.26/1427 H/2006, tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc, judul asli Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi'ar Kebersamaan Umat Islam. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=370)
.: :.

Taat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yang kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya untuk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu diantaranya adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum, shalat tarawih, bacaan Al-Qur`an, dan sebagainya. Sebuah fenomena yang tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal, bila kedatangannya menjadi dambaan, dan kepergiannya meninggalkan kesan yang mendalam. Tak kalah istimewanya, ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dengan menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan dorongan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, serta mengisi malam-malamnya dengan shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yang merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.

Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar, manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yang berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas, terkadang atas nama parpol, dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim, keputusannya yang paling benar. Tak pelak, shaum Ramadhan yang merupakan syi’ar kebersamaan itu (kerap kali) diawali dan diakhiri dengan fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya, ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yang mengidamkan persatuan umat.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu karena adanya perbedaan pendapat diantara elemen umat Islam, apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal (melihat hilal) ataukah dengan ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat, apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ (tempat keluarnya hilal) ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri-sendiri?”
Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu, lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas, utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adalah memuliakan dan menaati penguasa (pemerintah) umat Islam dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).

Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dengan pelaksanaan shaum Ramadhan?”
Layak dicatat, hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam, dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.
2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses, dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.
3. Realita juga membuktikan, dengan menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri, benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya, ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu, menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yang diperintahkan dalam agama Islam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)
Mungkin ada yang bertanya, “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada, sebagaimana berikut ini:

Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa
 Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25, hal. 117)
 Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini [1] dengan ucapan (mereka): ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” (Tuhfatul Ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
 Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” (Hasyiyah ‘ala Ibni Majah, lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 443)
 Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani [2] berkata: “Dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul Musta’an.” (Tamamul Minnah hal. 398)
 Beliau juga berkata: “Inilah yang sesuai dengan syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu 'anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu shalat di Mina 4 rakaat (Zhuhur, ‘Ashar, dan Isya’ -pen). Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat (di Mina/hari-hari haji, -pen.) bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu 'anhu.
Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala bersama Al-Jama’ah.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2, hal. 444-445)
 Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya Iedul Fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas engkau dengan kebaikan.”
Beliau menjawab: “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
Wabillahit taufiq. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 112)
 Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan Ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”
Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ
“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu, Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (Asy-Syura: 13)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)

وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 105)
Sehingga umat Islam wajib untuk menjadi umat yang satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu, dengan mengikuti keputusan lembaga/departemen yang menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai (dalam masalah ini), walaupun harus lebih tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.” (Fatawa Fi Ahkamish Shiyam, hal. 51-52)
 Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal (bulan tsabit) di tempat tinggalnya pada malam ke-30, untuk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya, maka yang harus diikuti adalah keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim, karena (dengan mengikuti) keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim, maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yang membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata untuk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”
Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, dan Asy-Syaikh Abdullah bin Mani’. (Lihat Fatawa Ramadhan hal. 117)

Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yang mendambakan persatuan umat Islam.
Mungkin masih ada yang mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku untuk seorang penguasa yang adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor, tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan, termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.
Satu hal yang perlu digarisbawahi dalam hal ini, jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat, prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kalam-Nya nan suci:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)
Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dengan Kitab-Nya (Al-Qur`an) dan Sunnah Nabi-Nya, serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia (juga) memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/105)

Para pembaca yang mulia, bila anda telah siap untuk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan Ulil Amri diantara kalian.” (An-Nisa`: 59)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan untuk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat. Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, juz 12, hal. 222)
Adapun baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Diantaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:
1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا
“Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan (terhadap penguasa) yang bertakwa. Yang kami tanyakan adalah ketaatan terhadap penguasa yang berbuat demikian dan demikian (ia sebutkan kejelekan-kejelekannya).” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah, dengarlah dan taatilah (penguasa tersebut).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As-Sunnah, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah, 2/494, no. 1064)
2. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ): قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!
“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yang mereka itu tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada diantara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya, maka dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman, 3/1476, no. 1847)
3. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Seburuk-buruk penguasa kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang (memberontak)?” Beliau bersabda: “Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yang tidak kalian sukai, maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan (darinya).” (HR. Muslim, dari shahabat ‘Auf bin Malik, 3/1481, no. 1855)
Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka (dengan latar belakang daerah, pengalaman dan generasi yang berbeda-beda) telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yang amat berharga seputar permasalahan ini, sebagaimana berikut:
 Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa, yang baik atau yang jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin, kalau penguasa yang baik kami bisa menerimanya, lalu bagaimana dengan yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya (walaupun) penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta'ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” (Syu’abul Iman, karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13, hal.187, dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam, karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57)
 Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka (penguasa) tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yang ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari apa yang ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta (mendatangkan) pahala yang berlipat.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 368)
 Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yang sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at dan jihad bersama mereka, dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hal. 14)
 Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh, ilmu, dan ahli ibadah, dan juga dari kalangan Ubbad (ahli ibadah) dan Zuhhad (orang-orang zuhud) sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, hari-hari Mina dan Arafah, jihad, haji, serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa, yang baik ataupun yang jahat.” (Al-Ibanah, hal. 276-281, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 16)
 Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dengan 1.000 orang lebih dari ulama Hijaz (Makkah dan Madinah), Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan diantara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara, diantaranya kewajiban menaati penguasa (dalam hal yang ma’ruf)–.” (Syarh Ushulil I’tiqad Al-Lalika`i, 1/194-197)
 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini (riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah di atas, -pen.) terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, juz 13, hal. 120)

Para pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:
1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yang harus dipelihara.
2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.
3. Ibadah yang bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri, bukan di tangan individu.
4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yang dapat memperkokoh persatuan mereka, baik si penguasa tersebut seorang yang adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.
5. Realita membuktikan, bahwa dengan bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam) benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dengan penguasanya, suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa (dan mayoritas umat Islam).
Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote :
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ, وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ
“Shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”
2. Beliau merupakan salah satu ulama yang berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dengan satu mathla’ saja, sebagaimana yang beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian, beliau sangat getol mengajak umat Islam (saat ini) untuk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya, sebagaimana perkataan beliau di atas.

(Dikutip dari Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol.III/No.26/1427 H/2006, tulisan Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc, judul asli Shaum Ramadhan dan Hari Raya Bersama Penguasa, Syi'ar Kebersamaan Umat Islam. Url sumber http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=370)
.: :.
Berpuasa & Berhari Raya Bersama Penguasa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-hUSS_gxWQDMZ3iw1W8VVfQt2zEEebl60aEoybS3jmVgZAFGbYsqfkCoownpbrEq2fqjiQV1J2aX_aTK56tlCjfURfS2OATwLmQ-OoYqLwEERLmy6RFEYrK-DLpvKucINV_fG0S5QQ18j/s72-c/FL031.JPG
View detail
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. MoslemStore - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger